Tahu Isi Cinta

Gamma tersenyum kecut. Gerbang masih digembok. Gadis tomboy itu datang terlalu pagi. Seharusnya jam tambahan dimulai jam 6.30, tapi Gamma lupa, dia terlanjur berangkat jam lima dan sampai di sekolah setengah jam kemudian.
Dengan agak malas dia mengambil jalan ke gerbang belakang, melewati kampung. Beberapa orang melihatnya heran, tak ada siswa yang datang sepagi itu. apalagi hari Senin. Tentu di sekolah hanya ada Tukang Kebun yang acuh saja melihat Gamma garuk-garuk kepala.
Pintu kelas sudah dibuka, begitu pun jendelanya yang memang tak pernah absen untuk meloloskan udara dari luar ke dalam kelas. Sepi. Gamma meletakkan tasnya yang sempat ditimbang tadi pagi, massanya enam kilogram, pantas saja Gamma bertubuh mungil.
“Oh iya, ada PR kimia, ngerjain deh dikit aja,” kata Gamma pada diri sendiri.
Gamma garuk-garuk kepala lagi, “Halaman berapa ya? Ah, ngerjain yang halaman 69 aja,”
“Pagi!” sapa Nita. Gamma terperangah ketika Nita datang. Asyik, ada temennya!, katanya pelan.
“Ta, aku baru inget hari ini kita bimbelnya jam setengah tujuh. Aku udah di sini jam setengah enam kurang. Tau gitu tadi aku makan dulu deh. Mana kantin belum buka lagi!” cerocos Gamma yang ditanggapi senyuman oleh Nita.
Tak lama Ade juga datang.
“Eh, aku lupa lho kalo sekarang kita lesnya setengah tujuh, kirain jam di kamarku yang salah!” kata Ade sambil meletakkan tasnya.
“Kok hari ini banyak yang lupa ya?”
“Hahaha, kita kayaknya emang pecinta kimia sejati. Kita memang pecinta kimia...juga pecinta fisika...,” Gamma mengubah syair “Pecinta Wanita”-nya Irwansyah dengan syair karangannya sendiri. Kadang teman-temannya menyangka Gamma bukan manusia.
- - - - -
“Laper nih! Ke kantin tengah yuk!” ajak Gamma pada Putri yang duduk manis di depan kelas.
“Beli apa?”
“Gorengan dong, emang apalagi?”
“Hahaha! Udah ketebak deh!”
“Udah yuk, laper banget nih! Perutku rasanya udah nyewa organ tunggal, tuh banyak yang udah goyang gergaji sama ngebor!”
“Jayus lu, ah!”
Gamma menuruni tangga sambil setengah berlari. Perutnya udah maksa minta haknya.
“Tahu isi, here i come!”
“Nggak mules perut kamu, Gam?”
“Boro-boro mules, kenyang aja nggak, kok! Rasanya perutku yang keisi nggak ada seperdelapan,”
“Gila! Itu perut apa kantong ajaib sih? Kamu udah ngabisin tahu isi tiga, sekarang masih pengen makan?”
“Biasa, namanya juga wonder woman!”
“Tumben sadar kalo kamu masih ‘woman’? biasanya ngaku ganteng?”
“Hahaha, intermezzo, Sis!”
Gamma mengambil tahu isi lagi. Bagi Gamma, tahu isi yang ukurannya kecil begitu bia dihabiskannya hingga enam biji. Itu pun istirahat nanti Gamma laper lagi. Gamma emang udah terbiasa makan banyak karena rumahnya jauh meski gitu, entar siang Gamma juga bakal kelaparan lagi. Tapi, dia nggak gemuk, pendapatan sama pengeluaran sepadan.
“Gam, Gam, tuh cowok dari tadi liatin kita!” kata Putri sambil menyikut lengan Gamma.
“Eneg kali liat ada cewek makannya banyak kayak aku!”
“Eh, eh, dia senyum!” kata Mita.
“Naksir sama si Vivi tuh!” kata Gamma lagi, tetap berkonsentrasi pada tahu isi terakhirnya.
“Gila, ganteng banget!” Putri nggak menghiraukan ucapan Gamma.
"Mana sih? Penasaran aku!” Gamma meletakkan gelas air mineralnya dan mulai mencari obyek yang dikagumi teman-temannya.
Vivi, Putri, Mita, sama Ira bengong waktu Gamma langsung nyamperin tuh cowok, pake ngajak ngobrol lagi!
“Woi, ini temenku waktu SMP dulu, tapi terus pindah ke Sulawesi, eh sekarang nongol di sini lagi!” oceh Gamma.
Keempat sahabat Gamma mendekat. Sedetik aja mereka kayaknya nggak mau melewatkan pemandangan indah.
“Putri,” Putri memperkenalkan diri dengan menyibakkan rambutnya ke belakang. Di susul tiga kawannya yang nggak se-lebai Putri.
“Ya ampun, Gam. Dari dulu sampe sekarang kamu tetep ya?”
“Tetep apa? Tetep ganteng kan?”
“Tetep manis banget!” jawab Gilang semangat. Gamma dan kanca-kancanya langsung melongo.
“Kamu tau kan letaknya UKS? Tuh, di deketnya ruang OSIS,” kata Gamma.
“Emang aku mesti ngapain di UKS?”
“Periksa aja, barang kali tekanan darah kamu rendah, terus jagi ngigau!”
Gilang garuk-garuk kepala. Nggak “ngeh”.
“Oooh... aku paham deh sekarang. Beneran Gam, kamu masih manis kayak dulu. Mana ada cewek yang kayak kamu? Rata-rata cewek kan ribet sama dandan,”
“Aku juga dandan kok,” Gamma menginterupsi, “Put, mandi itu termasuk dandan nggak?” tanyanya dengan lirih pada Putri yang masih takjub pada ucapan Gilang.
“Jam pertama akan dimulai lima menit lagi”
“Wah, gawat! Aku belum ngerjain PR antropologi, Gals! Duluan ya! Dah!” Gilang berlari dan menghilang di belokan dekat Ruang Wakasek.
“Untung aja kemarin sore aku udah keramas, jadi nggak malu ketemu Gilang!” ucap Putri, centil.
“Iya, malu-maluin banget kalo tiba-tiba kecoa-kecoa di rambut kamu pada keluar!” tukas Gamma cepat. Putri mencubit lengan Gamma dengan kekuatan supernya.
- - - - -
“Hoaaahmmm...” Paijo—sebenarnya nama aslinya Joan—menguap lebar-lebar.
“Ya Allah, sudah dibilang berapa kali, kalau menguap itu ditutup. Lihat, rambut teman-teman di depannya jadi warna hitam!” kata Pak Wawan, guru kimia kelas di kelas Gamma. Serentak semuanya tertawa. LOL.
“Buka halaman... banyak! Sebelahnya halaman 56,” perintah Pak Wawan. Semua tertawa lagi.
“Dibaca, dibaca! Kalau nggak bisa, tanyakan!”
“Gila, sampe istirahat nanti kita ketemu kimia! Mana aku nggak ‘dong’ sama pelajarannya,” kata Ferdiana.
“Iya, Fer, enaknya tidur nih!”
“Lho... malah ngobrol. Ini, yang seperti ini IWAPI!” Pak Wawan memandang Ferdiana dan Kika sambil menunjukkan penggaris kayu khusus untuk papan.
“Apa tuh, Pak?”
“Ikatan Wanita Penyebar Isu!” jawab Pak Wawan. Lagi-lagi beliau membuat semua murid IPA 7 tertawa.
“Ya ampun, Pak. Nggak nggosip, Pak,”
“Kalau begitu dibaca! Itu lho 50 tahun kalian belum tentu paham. Ayo, dibaca!”
Tiba-tiba handphone Pak Wawan berbunyi nyaring.
“Waaaah.... Ihiiiiy! Dari siapa, Pak?” tanya para siswa kompak.
Pak Wawan tersenyum, lalu menyodorkannya pada Pamungkas, “Apa ini bacanya? Pak Wawan nggak bawa kacamata,”
“Hai cowok, boleh kenalan nggak?” Pamungkas membacanya keras-keras.
Kelas langsung heboh!
“Hayo, siapa yang kirim sms ke Pak Wawan?”
Semuanya sibuk ngakak, nggak ada yang mau ngaku. Cuma satu orang yang dari tadi diem aja. Wajahnya ditelungkupkan di atas LKS kimia. Lamat-lamat terdengar dia mengingau, “Tahu isi, aku kangen...”
- - - - - -
Jam satu siang nggak terlalu panas kali ini. Langit sedang baik mau menampakkan awan agak kelabu yang diartikan Mita sebagai berkah, dia bisa jalan ke kosan tanpa kepanasan.
“Eka nggak mau aku putusin,” ungkap Putri dengan senyum cengengesannya yang khas.
“Ah.. eang eawa?” tanya Gamma, mulutnya penuh dengan tahu isi.
“Hah? Apa?”
Gamma menelan tahu isinya yang belum dikunyah secara sempurna. Dia agak kesusahan mendorong makanan itu masuk ke kerongkongan untuk dikenai gerak peristaltik.
“Emangnya kenapa dia nggak mau diputusin?”
“Katanya dia cinta sama aku,”
“Ih, makan tuh cinta!”
“Kamu sih, Gam, nggak pernah tau gimana rasanya jatuh cinta!” cibir Putri dengan wajah masam.
“Sapa bilang? Aku jatuh cinta tiap hari! Sama semuanya!”
“Halah, kamu sebenernya suka sama Gilang kan?” tebak Putri.
“Gilang? Nggak janji deh! Dia itu temenku yang baik banget. Tiap ke rumah pasti bawa tahu isi,”
“Kamu tuh ya, pasti yang dilirik tahu isi. Jangan-jangan entar kamu milih suami yang dagang tahu isi!”
“Mungkin lebih tepatnya aku bakal cari yang suka tahu isi juga, jadi biar kompak!”
“Maksud kamu Biwi?”
Gamma tersedak. Air yang hampir diteguknya keluar dengan lompatan-lompatan indah dari mulutnya.
“Kamu suka sama Biwi, Gam?”
Gamma diam.
“Ya ampun, Gam... anak culun itu?”
“Biwi nggak culun,” bela Gamma sambil mencubit pipi Putri.
“Sejak kapan?”
"Nggak penting deh, Put. Lagian aku juga nggak pengen pacaran dulu, aku juga tau Biwi nggak suka pacaran,”
“Jadi kalian udah?”
“Nggak. Kami cuma ngobrol dikit aja. Aku udah bilang sama dia kalo aku nggak mau pacaran. Aku juga udah bilang sama dia kalo aku pengennya langsung nikah aja, kayak kakakku. Aku udah liat, tanpa pacaran pun, kakakku bisa dapet pasangan hidup yang OK kok. Lagian jodoh nggak bakal kemana,” jelas Gamma.
“Yakin?”
Gamma mengangguk. ‘Semoga aja aku tetap yakin, amin.’
- - - - - -
Sekolah sudah sepi. Hanya ada Putri, Gamma, Mita, Vivi, Ira, dan Gilang. Mereka memang ada janji bertemu di kelas Bahasa, kelas Gilang.
“Sebenernya ada apa sih?” tanya Gamma tak sabar. Ia sedikit gondok karena kesempatannya beli gorengan di kantin hilang demi rendezvous tak jelas begini.
“Nih,” Gilang menyodorkan sepiring tahu isi di depan hidung Gamma.
“Hah? Buat aku semuanya, Lang?”
“Makan aja,”
“Waaaah... makasih ya! Baik bener kamu!”
Gamma melahapnya penuh semangat. Tapi tiba-tiba dia berhenti, padahal itu baru suapan pertama.
“Enak banget!”
“Pasti dong, aku kan nggak cuma ngasih wortel, kubis, taoge, sama bihun aja. Aku juga ngasih sesuatu yang lebih esensial,”
“Apa?”
“Cinta,”
“Hah?”
“Iya, Gam. Itu tahu isi cinta dari aku. Aku yang buat sendiri, khusus demi kamu,”
Perut Gamma langsung mual. Selera makan tahu isi itu jadi memudar, menguap dan mungkin sudah pindah ke Pulau Lombok.
- - - - -
“Kok kalian nggak ngasih tau aku kalo tuh anak mau ngadain acara kayak gitu?”
“Mana kami tau, Gam. Tiba-tiba aja dia cegat kami di depan perpus. Terus dia bilang mau ketemu kita semua di kelas Bahasa. Kami nggak tahu kalo dia ngadain acara kayak begitu,”
“Padahal aku enjoy banget berteman sama dia,”
“Karena tahu isi?”
“Bukan itu aja, dia asyik banget diajak ngocol,”
“Tapi, Gam, ada yang pengen kami sampein ke kamu,” ucap Ira.
“Apaan?”
Ira menoleh ke Vivi, Vivi menoleh ke Mita, Mita menoleh ke Putri, dan kemudian mereka semua menoleh ke arah Gamma.
“Makan tuh cinta!”
Gamma terkejut. Lalu mereka berlima berjalan ke ruman kost dengan tawa di sepanjang jalan.

Rating

33
points
Views: 23 reads
Comments: 4
Rating:
66

Favorites

You have to login to access this feature click here

Flag

You have to login to access this feature click here
Wawan Cahya's picture
Wawan Cahya at Re: Tahu Isi Cinta (3 weeks 6 days yang lalu)
80

Lanjut..ada lanjutannya kan?

marialaksmi's picture
marialaksmi at Re: Tahu Isi Cinta (6 weeks 4 days yang lalu)
70

bagus khas anak muda, cinta tidak harus ditanggapi dengan ratapan

dhitaspica's picture
dhitaspica at Re: Tahu Isi Cinta (6 weeks 4 days yang lalu)
80

Yup. . . Critax ngalir gitu aja,jd mudah d mngerti, ,
pencritaanx jg ga ribet. . .
Sip lah. . .

ipenk project's picture
ipenk project at Re: Tahu Isi Cinta (6 weeks 5 days yang lalu)
100

Bagus, mengalir...
Dalam satu ide...

Coba diberi sedikit bumbu Big Grin

Keep write !

*PERTAMAXXX..hhehe