Keesokan paginya, Aqvana yang masih berada di rumah sakit tampak sedang bermain-main dengan Alttha di kamarnya. Sementara Ravhael sedang berada di luar kamar untuk membereskan barang-barang keperluan mereka karena menurut dokter, Aqvana sudah bisa keluar dari rumah sakit hari itu.
Read more (2716 words)
“Nah sepertinya aku sudah mulai bisa mengendalikan kekuatanku untuk menciptakan air dari kumpulan uap air seperti yang dikatakan Noghas di Halvannez.” Aqvana tersenyum puas memandang sebuah gumpalan cairan bening di hadapannya dan melayang di atas tangannya dengan sebuah cahaya terang yang membuat Alttha bertepuk tangan terkagum-kagum.
“Kak Aqvana hebat… sepertinya mengendalikan dan menciptakan benda dari sesuatu yang tidak ada itu cukup menyusahkan ya??” kata Alttha mencoba menyentuh air yang ada di atas tangan Aqvana.
Mendadak air itu pecah menjadi beberapa bagian yang kemudian jatuh dan memba-sahi tempat tidur Aqvana. “Aduh!!” seru Aqvana kaget karena selimut dan kakinya jadi basah semua.
“A-ah maafkan aku kak…” kata Alttha berdiri dan segera mencari sesuatu untuk mengeringkan kaki Aqvana itu. Ia segera menarik selimutnya dan membawanya ke jendela.
“Sudahlah Al, tidak apa-apa…” Aqvana tertawa dan mengarahkan tangannya lagi ke arah selimut basah yang dipegang Alttha. “Aku sudah mulai terbiasa dengan kekuatan ini jadi coba perhatikan…”
Perlahan-lahan muncul gumpalan air lagi yang seakan tertarik keluar dari selimut yang dipegang Alttha. Dalam hitungan detik selimut itu sudah kembali kering karena air yang diserapnya sudah tertarik oleh kekuatan Aqvana. Alttha menatapnya takjub. “Waaah Rupanya kakak sudah lihai menggunakannya ya!?”
Aqvana menarik air itu kembali dan mencoba membuat gumpalan air lagi dari kaki-nya yang basah. Usahanya kali ini cepat berhasil karena kurang dari dua detik, sudah tercipta air yang lain di atas tangan kirinya. Ia mengembangkan senyum dan kemudian mengangkat kedua tangannya dan berteriak senang. “Kereeeeen!!” serunya keras dan kedua gumpalan air itu lenyap di udara.
“Hoey… kalian sedang apa??” tiba-tiba Ravhael masuk ke dalam kamar itu. Aqvana dan Alttha terlonjak kaget.
“Lihat Rav!! Sekarang aku bisa bikin air dengan leluasa!!” seru Aqvana melemparkan gumpalan air kecil ke arah wajah Ravhael yang tepat sasaran.
“Hey!!” seru Ravhael mengusap wajahnya. “Air ini bukan keringatmu kan??”
“Menjijikkan!” seru Aqvana marah. “Air asli! Ciptaan kekuatanku! Jangan ngomong sembarangan!!”
Ravhael tertawa melihat tingkah sepupunya yang senang sekaligus kesal karena kekuatannya yang diejek Ravhael tadi, “Iya… iya… bagus, ngomong-ngomong bagaimana dengan kakimu??”
Aqvana memandang kakinya yang diperban. “Hmm sudah tidak begitu sakit…” katanya pelan lalu mencoba menurunkan kakinya ke lantai. Lalu mencoba berdiri. “A-aduh!” serunya kesakitan.
“Kak jangan bertindak ceroboh!” seru Alttha segera menolong Aqvana. “Kaki kak Aqvana tidak mungkin bisa sembuh secepat ini!!”
“Ng-tidak apa-apa. Kurasa aku sudah bisa berdiri sekarang.” kata Aqvana melepaskan pegangan Alttha.
“Apa kakak yakin??” tanya Alttha khawatir.
Aqvana mengangguk pelan dan kali ini mencoba berjalan. “Nah, asal posisinya tidak salah, aku bisa berjalan tanpa kesakitan sekarang.” katanya sambil berjalan ke arah Ravhael dengan bantuan pegangan Alttha.
“Bagus deh kalau begitu…” kata Ravhael tenang. “Aku tidak perlu menggendongmu lagi. Rasanya badanku pegal-pegal deh.”
“Ya maaf…” Aqvana memalingkan wajahnya yang memerah. “Tapi aku tidak berat kan?? Bukankah kita sudah tidak makan teratur sekarang??”
“Yah tapi suatu saat kamu harus membalas budi baikku oke?? Membelikanku segala macam keperluanku misalnya??” Ravhael memandang Aqvana sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Ya…ya!! Kapan-kapan!!” seru Aqvana mendengus kesal.
“Bagus! Jadi jangan lupa sama janjimu!!” kata Ravhael tertawa lagi sambil meninggalkan kamar mereka itu.
Aqvana terdiam sejenak. Memandang punggung Ravhael yang menutup pintu itu dengan agak melamun.
“Ada apa kak?” tanya Alttha pelan yang membuyarkan lamunan Aqvana.
“Hah!? Oh tidak…” jawab Aqvana pelan. “A-aku hanya ingat kalau aku juga pernah bilang begitu pada Shivee… saat dia berjanji akan datang menolongku kapan saja aku membutuhkan bantuannya dalam menghadapi para Pasukan Bayangan, monster, atau binatang buas…”
Alttha mengerutkan alisnya lalu menunduk. “A-aku minta maaf kalau tiba-tiba aku mengungkit—”
Aqvana mengangkat sebelah tangannya untuk menyuruh Alttha diam. “T-tidak apa-apa kok… Itu juga salah kami karena tidak bisa menjaganya dengan baik. Jadi kamu tidak perlu minta maaf…”
“I-iya…” kata Alttha pelan.
“Sekarang aku juga telah berpisah dengan Aerynt dan Noghas, aku tidak tau mereka ada dimana… dan aku tidak tau apa yang harus kulakukan…” Aqvana menggumam lagi. Ia berjalan kembali ke tempat tidurnya dan duduk di atasnya. “Padahal sebenarnya kami hanya ingin pulang ke Bumi… tapi sekarang malah terlibat masalah yang rumit begini… aku bahkan tidak yakin bisa kembali ke Bumi hidup-hidup atau tidak…”
“Uuh…” Alttha berpikir sejenak lalu menepuk kedua tangannya, “Umm bagaimana kalau aku juga membantu kakak mencari kak Shivee??”
Aqvana menoleh. “Apa??”
“Iya, semua ini juga berkat kak Shivee yang mengajakku mengobrol dan berkenalan sehingga aku jadi mengenal kak Ravhael dan akhirnya mengenal kakak. Jadi aku mungkin bisa berguna buat kakak kalau dalam masalah menghadapi musuh atau sejenisnya kan!!?” seru Alttha bersemangat. “Selain itu kakak juga sudah janji akan menolongku mencarikan kakakku, jadi aku bisa balas budi kalau aku bisa membantu kakak mencari kak Shivee!”
“Tapi Al… janji itu sudah cukup hanya dengan pertolonganmu untuk membantu kami melawan Pasukan Bayangan saja kan?? Kalau kamu melakukannya kami tidak punya apa-apa lagi untuk membalas kebaikanmu…” kata Aqvana berusaha menolak. “Selain itu, musuh kami berbahaya, tidak cuma Pasukan Bayangan saja, tapi kami bisa saja bertempur dengan Shadow Knight atau bahkan Shadow Hamster… kami tidak bisa melibatkanmu dalam masalah yang seperti ini…”
“Tidak masalah kak!? Lagian aku yakin bisa menemukan kakakku jika terus bersama kalian…” kata Alttha tersenyum. “Selain itu juga… sudah lama aku tidak punya teman… kalian berdua adalah orang pertama yang menganggapku teman sejak paman Thanne meninggal dua tahun yang lalu. Aku juga kesepian makanya aku sangat senang bisa berada bersama kalian…”
Aqvana menunduk lagi, “Maafkan kami kalau begitu merepotkanmu… Al.” katanya pelan. “Tapi terima kasih banyak ya…”
***
Sementara itu, Aerynt dan Noghas yang masih berjalan berdua di atas sebuah bukit hijau jauh dari Halvannez mulai tampak kelelahan. Seharian penuh kemarin, mereka tidak memiliki apa-apa untuk dimakan. Dan untuk memasak buruan yang ditangkap, mereka sedikit kesulitan dalam membuat api karena banyaknya angin yang melintas ditambah hujan gerimis yang masih melanda sampai saat ini. Mereka berdua hanya mengandalkan mantel lama Noghas dan jubah dari istana untuk melindungi diri dari terpaan angin yang dingin sekaligus hujan gerimis yang membuat mereka semakin kedinginan. Hanya berdasarkan ingatan Noghas saja mereka berjalan ke depan mencari kota terdekat. Beberapa langkah kemudian, akhirnya Aerynt menghentikan langkahnya. Padahal mereka masih diterpa angin, dan belum menemukan tempat untuk berteduh.
Noghas berbalik. “Ada apa? Kenapa kau berhenti??” tanyanya pada Aerynt yang memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.
“Kurasa aku mulai capek.” kata Aerynt pelan sambil berjalan pelan ke arah Noghas. “Saat ini menghadapi para Pasukan Bayangan tidak akan semudah yang kukira. Sejak awal aku sama sekali tidak mengerti ataupun mau percaya tentang kekuatan Sereneth itu. Tapi, sekarang keadaannya berbeda. Ravhael, Aqvana dan Shivee tidak ada, padahal mereka bertigalah yang paling lihai menggunakan kekuatan itu.”
“Jadi!?” Noghas memicingkan mata kucingnya.
“Jadi setidaknya kalau aku juga seorang Sereneth, aku pasti bisa melakukan sesuatu dengan kekuatannya.” jawab Aerynt memalingkan wajahnya. “Kau tidak bisa memberitahuku apa kekuatan yang kumiliki??”
“Hmm…” Noghas berbalik dan berjalan lagi, “Lebih baik kita cari tempat berteduh dulu… nanti akan kucoba mengingath kekuatan apa yang mungkin kau miliki.”
Aerynt menurut dan mengikuti Noghas berjalan lagi menembus hujan gerimis dan angin kencang yang masih terus bertiup.
Mereka berdua akhirnya tiba di ujung bukit dan kemudian mulai menuruninya. Di bawah, mereka sudah terlindung dari angin. Dan tak lama kemudian, mereka berdua sampai ke sebuah hutan rimbun yang hampir seluruhnya tertutup pohon. Untuk menghindari hujan, mereka memasukinya, dan benar saja, hujan gerimis itu tak mampu mencapai mereka karena terhalang berbagai macam dedaunan yang tumbuh dari pohon-pohon di hutan itu.
Baru sejenak mereka berjalan lagi, di depan terlihat sebuah gubuk tua yang terbuat dari kayu berdiri lapuk di tengah hutan. Bangunannya sudah dililit berbagai macam jenis tumbuhan merambat yang juga dipenuhi bunga-bunga cantik beraneka warna. Tanpa pikir panjang, mereka berdua segera mendekatinya dan mencoba mengetuk pintu.
Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Noghas langsung mencoba membuka pintunya yang mendadak lepas dari engselnya. “Aduh!” serunya kaget. “Oh… rumah seperti ini pasti tidak ada pemiliknya… jadi kita masuk saja dulu…” katanya mengajak Aerynt.
Aerynt mengangguk dan ikut masuk ke dalam. Lalu membantu Noghas memasang kembali pintu yang sudah lepas itu.
Mereka mendapati rumah itu kosong. Tetapi di dalam terdapat beberapa perabotan yang masih layak pakai walaupun sudah tua, berdebu dan bersarang labah-labah walaupun masih berlantaikan tanah. Noghas mencoba membersihkan debu dan sarang labah-labah dari tempat tidur. Dan kemudian menyilakan Aerynt untuk duduk disitu.
“Nah. Kita beristirahath dulu saja di sini sambil menunggu hujan reda. Sebelum itu, ayo kita coba mencari tahu kekuatanmu…” kata Noghas sambil melepas jubah dan mantel tebal yang tadi dikenakannya.
“Jadi apa yang harus kulakukan??” tanya Aerynt ikut melepas mantelnya.
Noghas menggaruk-garuk dagunya yang berjanggut tipis, “Kalau kuingath-ingath sepertinya kau ini memiliki kemungkinan untuk memiliki kekuatan unsur Sylphi, Gnoma, dan Leamonde, sebab hanya itu yang tersisa sekarang setelah kita mengetahui kalau Ravhael memiliki unsur Salamand, Aqvana unsur Undin, dan Shivee unsur Diakon.”
“Kalau begitu apa unsur Sylphi dan Gnoma itu?? Tanah? Angin? Petir?” tanya Aerynt sambil merenggangkan badannya.
“Petir akan didapath dari pengembangan kekuatan cahaya. Sepertinya kau memiliki kemungkinan untuk dapath mengendalikan Sylphi atau Gnoma. Karena saath ini unsur Leamonde pasti sudah dimiliki orang lain. Tapi mungkin kau bisa menggunakan Gnoma. Kekuatan tidak jelas semacam racun atau apalah gitu… seperti pemilik sebelumnya, tapi yang jelas, kekuatan seorang Sereneth tergantung pemilik dan unsurnya.” jelas Noghas, “Karena setahuku, Gnoma itu adalah unsur tanah…”
Aerynt memandang tangannya. “Sylphi atau Gnoma?? Yang mungkin juga kekuatan berunsur racun?? Tidak seperti yang kubayangkan.” katanya pelan. “Lalu apa yang mereka lakukan agar dapat menggunakan kekuatan Sereneth itu??”
Noghas menggaruk kepalanya sekarang, “Hmm… aku tidak tahu benar apa yang mereka lakukan saath mengeluarkan kekuatan mereka jadi…”
“Jadi apa maksudnya Sylphi dan Gnoma??” tanya Aerynt lagi kesal saat memandang manusia kepiting itu.
“Bukankah aku sudah bilang dulu? Sylphi itu angin dan Gnoma itu tanah.” kata Noghas dengan tampang tidak bersalah.
“Bukan itu maksudku!” Aerynt berseru kesal, “Bagaimana aku bisa menggunakan kekuatan itu kalau kau hanya memberitahuku arti dari nama-nama unsur itu??”
“Kalau begitu cobalah kau menggunakan kekuatan tanah. Itu adalah kemungkinan lain untuk unsur Gnoma. Konsentrasikan pikiranmu kepada tanah di depanmu.” kata Noghas memberi petunjuk. “Buat dia begerak dengan pikiranmu…”
Aerynt mencoba semua yang dikatakan Noghas. Tapi tidak terjadi apa-apa terhadap tanah di depannya itu, “Lalu? Apa cuma itu??”
“Yah… mungkin itu bukan unsur warnamu…” kata Noghas enteng. “Kalau begitu coba yang satu ini. Unsur Sylphi err angin… apa ya??”
“Jangan bercanda!!” bentak Aerynt marah sambil menjejak berdiri. “Saat ini aku sama sekali tidak punya apa-apa untuk bisa berguna dalam perjalanan ini!! Satu-satunya harapanku hanyalah kekuatan aneh ini! Jangan membuang-buang waktu!!”
Angin tipis bertiup pelan ke dalam ruangan itu. Membuat Suasana menjadi sedikit lebih dingin dari sebelumnya. Noghas memandang Aerynt dan berkata, “Yah… aku hanya tahu mereka dulu menggunakan kekuatan itu tak berbentuk. Jadi yang punya warna Salamand akan mengeluarkan semacam bola warna merah. Dan Undin juga mengeluarkan semacam warna biru dengan kekuatan perusak yang sama kuatnya dengan warna Salamand. Tapi aku jarang sekali melihat mereka mengendalikan alam. Karena…” Noghas menunduk dengan gaya berpikir serius. “Aku tidak selalu berada di samping mereka. Jadi walaupun mereka bertarung. Aku juga tidak mengerti apa yang mereka gunakan.”
“Kalau begitu bagaimana aku bisa tahu kekuatanku!!” seru Aerynt memukul-mukul kasur yang didudukinya dengan kesal karena semua yang diucapkan Noghas sama sekali tidak berarti.
WOOSSH!!!
Mendadak pintu yang sudah terlepas dari engselnya itu terbanting keras ke dalam akibat hembusan angin besar yang menerpa gubuk itu entah dari mana. Membuat Noghas dan Aerynt tersentak kaget.
“Hmm… anginnya memang kurang ajar…” gumam Aerynt. “Sudah dipasang susah-susah malah membuat pintu itu terlepas lagi!!”
“T-tunggu dulu Aerynth.” cegah Noghas kepada Aerynt yang sudah berdiri dan mau membetulkan kembali pintu yang sudah terlepas itu.
“Apa!?” tanya Aerynt berbalik.
“Angin tadi tidak wajar.” kata Noghas pelan lalu berjalan keluar dari rumah itu diikuti Aerynt, “Kita sudah terhalang bukit sekarang. Tidak mungkin ada angin datang berhembus ke tempat ini…” katanya menunjuk ke arah hutan.
“Jadi!?”
“Itu dia! Mungkin itu kekuatanmu! Angin!! Mungkin karena kau kesal tadi sehingga bisa membangkithkan kekuatan itu dan mengempaskan pintu besar itu!!” seru Noghas bersemangat.
Aerynt terdiam memandang Noghas dengan kesal. Lalu memandang kedua tangannya yang terbuka. “Angin ya…”
“Jadi kalau begitu cobalah untuk mengendalikan udara di sekitarmu!!” seru Noghas cepat “Kau bisa membuath pusaran angin kalau sudah mahir melakukannya!! Pokoknya, kamu bisa melakukan apapun pada udara dengan kekuatanmu itu!!”
“Contohnya?” Aerynt memiringkan kepalanya.
“Yang jelas mengubah tekanan udara untuk membuath aliran angin, dan mungkin kamu bisa mengompresnya juga menjadi sesuatu yang sedikit padath dan meledakannya di suatu tempath, membuath perisai angin, lalu mungkin bisa menjadikannya sesuatu untuk menopangmu di udara, pokoknya macam-macam lah!!” jawab Noghas cepat.
“Hmm… gimana ya??” Aerynt mengangkat sebelah tangannya ke arah Noghas yang kemudian terbelalak kaget, “Sebenarnya aku tidak begitu yakin aku bisa menggunakannya atau tidak. Sebab aku tidak percaya kalau hal-hal semacam ini ada. Tapi, Ravhael bisa menggunakannya, Shivee juga bahkan Aqvana juga… aku tidak mengerti…”
“Uph—!!!” mendadak Noghas memegang lehernya.
“Selain itu kekuatan angin ini kan tidak berbentuk, terus bagaimana aku bisa mengendalikannya? Tidak ada warnanya lagi??” Aerynt memandang Noghas yang masih terus berteriak-teriak tanpa suara sambil memegang lehernya. “Lebih baik kau tidak usah bercanda. Kekuatan angin itu cukup berbahaya jika disalahgunakan seperti—”
Noghas sudah tidak mendengar Aerynt. Ia memukul-mukul lantai dan berlutut di bawah kaki Aerynt.
“Ada apa??” tanya Aerynt.
Wajah Noghas memerah. Ia mengibas-kibaskan tangannya di depan wajahnya dengan panik. Aerynt semakin kebingungan.
“Apaan sih?? Jangan bertingkah aneh seperti itu dong!!?” kata Aerynt menurunkan tangannya, tetapi Noghas belum berhenti melakukan gerakan aneh yang tidak bisa dimengerti itu.
“….U….d….d….a….rr...a….” kata Noghas susah payah masih sambil memegangi lehernya. Wajahnya sudah berubah menjadi ungu sekarang.
“Hah? Udara?” tanya Aerynt bingung kemudian mendadak ia mengerti. “Oh… begitu rupanya… kekuatanku bekerja ya?? Aku bisa mengendalikan udara rupanya… tadi aku iseng saja mencoba berpikir ‘coba saja membuat udara di sekitar Noghas lenyap’ nah apa yang terjadi??”
Noghas mengangguk-angguk cepat. Ia menarik-narik lengan Aerynt. “….C…epa…tt… hh…” katanya dengan sisa-sisa napasnya.
“Tapi apa yang harus kulakukan?” tanya Aerynt bingung. Tapi melihat Noghas sudah tidak bisa berkutik lagi dengan wajah begitu ungu. Ia mencoba memikirkan hal sebaliknya yaitu mencoba berpikir kalau di sekitar Noghas terdapat banyak sekali udara.
Tidak ada perubahan yang begitu berarti pada Noghas. Noghas hanya bergerak semakin lambat, bahkan wajahnya sudah hampir biru. “Lho Nog!!” seru Aerynt panik. Kemudian mendadak ia ingat. Lalu mencoba mengarahkan tangannya ke arah wajah Noghas lagi.
Seakan tertiup angin semilir, rambut Noghas yang berwarna kuning berantakan bergerak pelan ke arah belakang. Dengan cepat wajahnya kembali normal. Sekarang ia sudah bisa menghirup udara dengan leluasa.
“N-Noghas?” tanya Aerynt mencoba memanggilnya, “Kamu sudah tidak apa-apa??”
“P-puah!!” seru Noghas menghembuskan napas lega. “A-Aerynth, k-kamu hampir me-membunuhku tadi!!”
“A-aku tidak tahu kalau efeknya sampai seperti itu…” kata Aerynt dengan nada datar. “Tapi sejak angin besar tadi mengempaskan pintu itu sampai seperti ini, aku sudah sadar kalau mungkin aku bisa mengendalikan udara.”
“Jadi dari tadi kau mempermainkan aku??” seru Noghas.
“Huh!” Aerynt berdiri. “Seandainya sejak awal aku tahu aku punya kekuatan ini, kami berempat tidak akan berpisah seperti ini…”
“Bicara apa kau??” kata Noghas lagi sambil berpegangan pada sebatang pohon kecil dan mencoba berdiri.
“Setidaknya sekarang Ravhael ada bersama mereka… kalau Shivee sudah sembuh, setidaknya Aqvana masih punya dua orang pelindung di sisinya.” jawab Aerynt mendesah. Lalu menoleh ke arah Noghas. “Dan kau, kalau semua ucapanmu sekarang hanya bualan untuk memanfaatkan kami… aku tidak akan pernah memaafkanmu…”
Noghas hanya mengerutkan keningnya.
“Jadi, lebih baik kau segera membawaku ke tempat bernama Garinthor itu. Kami sudah harus pulang ke Bumi sebelum ujian semester datang.” kata Aerynt menatap Noghas tajam.
“Kalau begitu apa yang harus kulakukan sekarang??” tanya Noghas sinis. “Aku juga tidak punya banyak waktu hanya untuk kalian.”
“Beritahu aku dulu semua masalah sebenarnya yang sedang terjadi. Mulai dari kenapa si Shadow Master itu memburu para Sereneth. Lalu kenapa ia membunuh orangtua kami? Jelaskan semuanya sejak awal sampai akhir kenapa ini bisa terjadi tanpa terkecuali!!” jawab Aerynt dengan nada memerintah.
“Kalau kau ingin penjelasan seperti itu, sepertinya akan memakan waktu yang tidak sebentar.” kata Noghas berpaling. Lalu kembali berjalan ke dalam rumah kecil itu tadi. Kita bisa berteduh di sini sampai hujan benar-benar berhenti di tempath ini dulu kalau kau mau… dan sekalian melatih kekuatanmu itu!”
To be continued…
kirain petir kekuatannyaaaaa....
wahhh serem bgt yak
ampir aja noghasnya matek
klo Nohgas mate gmn jadinya ya
pasti ni crt ga bakalan ending ya gak seh
keren tuh ceritanya
coz diceritain pas pembelajaran ilmunya
beda ma critaku yg tau2 dah mempelajari
hehehehehheheheh
koq bisa kepikir sedetil itu?
kalo postnya cepet harap maklum... sebenernya saya udah punya ceritanya mpe tamat... tinggal posting aja gitu...
tapi harus nunggu karena setiap hari jatahnya dua dua... heheheh
NEVER END
cpe deh kpn tamat?
ini masih sekitar seperlimanya... kira-kira taun depan tamat kalo bisa..
hahahaha ya never end gitu deh...
buset... cepet banget post nya....
kalo ngebaca cerita ini jadi inget avatar (ada water bender nya juga - aqvana... he..he..he..)
ni kan proyekku kelas lima esde... waktu liat avatar sempet sedih juga... tapi biarin aja deh pake cerita yang bender alam... hehehe
posting lagi posting lagi...
ga berenti berenti...
yang ini ceritanya mbosenin banget... saya sebagai pengarang merasakan hal itu..
tapi tetep baca yah...