Jingga bertaburan di langit saat senja tiba. Kota ini kian sesak saja. Jalanan tak lain dengan comberan dipadati sampah. Bergerak merambat menuju ke pembuangannya. Tak tersisa ruas untuk pejalan kota. Penuh dengan bising deru kendaraan lalu lalang. Bau muntah kepul asap knalpot menampar wajah-wajah penghuninya. Tiap sisi jalan berjejal tak karuan mal, plaza, pertokoan, tenda biru, kedai makan-minum, warung rokok, apotik, bengkel, kios ponsel, hotel, dan tempat orang-orang mengais laba.
Read more (2516 words) Mereka berdendang tembang diskon, big sale, cuci gudang, surga rabat, bonus, atau beli satu dapat dua. Manusia-manusia sibuk dengan harinya. Melangkah dan melangkah tanpa tegur sapa. Hanyut dalam denyut tarian sumbang kota tua. Lampu-lampu tepi jalan berkedip genit mengajak mereka lupa kepada ruang, waktu dan dirinya sendiri.
”Panggil saja saya Tarjo.” ucapnya singkat. Begitu yang diucapkan saat Tari menanyakan namanya. Nama lengkapnya Sutarjo. Pemuda yang mencoba peruntungan di Jakarta. Berbekal secarik kertas berisi alamat kawan dan ongkos secukupnya ia bertekad kuat mengarungi hidup di Kota itu. Banyak yang bilang Jakarta itu seperti lentera yang cahayanya menarik laron-laron keluar dari sarangnya di awal musim penghujan. Ia sadar hidup di kota besar tidaklah gampang. Orang tua dan kerabatnya di kampung pun berulang kali menasehatinya seperti itu. Namun darah muda pemuda itu bicara lebih lantang. Ia bisa membawa diri dan berhati-hati hidup di Jakarta, begitu keyakinan dan janji kepada orang tuanya. Hari ini, sudah setahun ia bertahan hidup sebagai pengojek sepeda. Ia mengikuti jejak temannya yang telah lebih dulu menjalani profesi ini. Ia beruntung bisa menemukan teman sekampungnya yang memberinya jalan untuk mencari uang meski hanya sekedar untuk bertahan.
Jingga semakin pekat menyelimuti kehidupan kota yang kian sengit. Tarjo melangkah lelah sambil menuntun sepedanya menuju sebuah pintu gedung tua. Gedung yang ia tidak tahu sejak kapan berdiri, kepunyaan siapa, dan untuk apa ada di situ. Sebab tak pernah dilihatnya penghuni di dalam gedung itu, kecuali Mbak Yun, pedagang nasi uduk yang mangkal di depannya. Ia menghampiri gedung itu jika cacing diperutnya berdemo menuntut hak seperti saat ini. Sesekali ia mengamati sekeliling gedung sambil menikmati nasi uduknya. Warna cat yang kusam pucat, tembok yang mengelupas lapisan semen luarnya sehingga terlihat susunan bata merah, tiga dari lima daun jendela lepas entah kemana dan debu tebal menutup kaca daun jendela yang masih tersisa. Keasyikannya terusik saat seekor kucing datang mendekat dan duduk persis didepannya. Seekor kucing jantan berambut kelabu gelap. Tubuhnya kurus dan luka sehabis berkelahi masih menganga. Ia menyeringai menahan sakit saat luka itu meradang. Terkadang ia mengeong lirih.
”Maaf teman hari ini uang ku nggak cukup buat membeli ikan”, bisik Tarjo lirih. Kucing itu merundukkan kepalanya. Lalu merebah diatas aspal jalan. Entah apa yg membuat kucing itu enggan beranjak dari situ. Meski ia tak di beri sebutir pun nasi oleh Tarjo.
”Siapa lawan mu hari ini?” tanya Tarjo pelan. Kucing itu masih merebah tak mengacuhkannya, lalu menjulurkan kepala hingga kumisnya menyentuh aspal jalan.
”Baiklah kalau begitu, tapi kau masih ingin mendengarkan cerita ku, bukan?” tanya Tarjo setengah meminta. Tatapannya melayang ke langit gelap yang menyelimuti kota. Ia selalu tersenyum jika mengenang kejadian itu.
Saat itu langit mendung ketika Tari pulang dari tempat kerjanya. Ia berjalan menuju badan jalan diiringi detuman musik menghentak-hentak yang perlahan-lahan sayup terdengar. Jalan mulai lengang. Hanya satu dua mobil melintas. Ia menengok ke kiri ke kanan lalu pandangannya berhenti pada sosok lelaki yang duduk di atas sepeda kemudian menyerunya.
”Jo, Tarjo sini!” serunya singkat diiringi lambaian memanggil. Tarjo membuang rokok yang baru sehisapan lalu berlari kecil sambil menuntun sepeda menuju Tari. Setelah tak berjarak Tarjo mempersilakan Tari naik di boncengan sepedanya. Tari meletakan pantatnya diatas jok empuk sepeda Tarjo. Mungkin karena empuknya membuat Tari berlangganan kepadanya. Pernah Tari berkata bahwa jok sepeda Tarjo itu jok terempuk diantara jok-jok sepeda para ojek yang lain. Hati Tarjo berbunga kala itu. Tari pun menyuruh tarjo mengayuh sepedanya lebih cepat sebab mendung mulai datang.
”Cepetan ya Jo, bentar lagi mau hujan nih”, pinta cemas Tari. Udara di sekitar terbakar Tarjo pun terlecut. Ia pun mengayuh sepedanya secepat banteng karapan. Ia berpacu melawan waktu dan berharap dirinya seekor meteor yang melesat di langit malam. Roda sepeda menderu, debu berterbangan. Namun waktu bukan bocah ingusan yang dengan mudah melepaskan permen ditangannya ketika ada yang merampasnya. Dan pada pertarungan ini Tarjo menjadi bulan-bulanan sang waktu yang perkasa. Di pertengahan jarak perjalanan menuju kontrakan Tari, langit sudah tak tahan menampung hujan. Satu bulir air jatuh, kemudian datang menyusul sepuluh, seratus, seribu, sejuta, se... jalan lengang mulai tergenang. Tarjo menawarkan tari untuk menepi dan berteduh. Tari menolaknya, sebab berpikir sudah dekat dengan kontrakannya. Jarak pandang terhalang kabut sebab tirai hujan yg mulai menebal. Tarjo makin menggila memacu sepedanya mencoba memepatkan jarak yang ada. Tapi mengapa titik itu sepertinya semakin menjauh. Dan ia merasa seperti lelaki jompo memanggul bertumpuk kayu bakar. Jalan makin tergenang air. Sekonyong sepeda Tarjo melintas lubang jalan yg tersembunyi dibalik genangan air. Tari menjerit terkejut sebab pantatnya terhempas dari jok empuk. Tari mencari pegangan agar dirinya terhindar dari jatuh. Tangan Tari mengapai liar mencari pegangan. Tari meraih sekenanya pingang Tarjo dan merangkulnya. Namun ia meleset, tangannya meraih benda di antara kedua paha Tarjo dan memegang kuat-kuat. Tari mengingatkan Tarjo untuk berhati-hati seraya merapatkan tubuhnya ke punggung Tarjo dan mempererat rangkulannya. Tarjo terhenyak, matanya mendelik, mulutnya ternganga. Ia terkejut setengah mati dan tak tahu harus berbuat apa. Tarjo ingin sekali berteriak tapi suaranya tertahan di tenggorokannya. Ban sepeda Tarjo penyok tak bundar lagi. Beberapa jari-jari sepedanya patah. Mungkin karena benturan yag cukup kuat dengan jalan yang lubang. Dan cengkraman tangan Tari semakin membuat Tarjo lepas keseimbangan. Kedua tangannya mencoba menenangkan stang sepeda ke kiri ke kanan. Tarjo mengalami kesulitan mengendalikan sepedanya dan mulai panik. Dan malang pun tak dapat dibendung. Sepeda oleng mencari keseimbangan baru. Mereka pun terperosok ke kubangan. Wajah Tarjo tersungkur mencium kubangan. Tari jatuh terduduk. Tarjo bangit dengan wajah berlumur air keruh. Rambutnya kotor dan basah. Wajahnya samar terlihat. Hanya bola matanya yang berkedip-kedip. Tarjo memohon maaf kepada Tari atas kejadian tadi. Tari masih terduduk diatas kubangan air hujan. Rambut, wajah, baju, tubuhnya basah. Tari menelisik wajah Tarjo. Tari menutup mulut dengan kedua tangan menahan gemuruh tawa yang keluar. Tarjo bingung tak tahu harus berbuat apa. Tarjo celingukan ke kiri ke kanan. Mencari di mana ada kelucuan. Tari semakin tidak dapat membendung tawa. Tari tertawa lepas. Sambil menunjuk wajah Tarjo yang sudah tak berbentuk. Tarjo balas menunjuk Tari, lalu ia tertawa walau tak tahu kenapa ia harus tertawa. Mereka berderai tawa di bawah selimut dingin hujan.
Bagi Tarjo peristiwa malam itu merupakan kenangan terindah dalam hidupnya selama berada di kota ini. Baginya Tari membuat Jakarta tidak seburuk yang Ia kira. Tari adalah jarum yang ditemukannya diantara tumpukan jerami. Sejak itu, Tarjo selalu setia menunggu Tari untuk mengantarkannya pulang. Tak pernah luput satu malam pun Ia mengantar-jemput perempuan itu. Hingga pada suatu malam ketika Ia hendak mengeluarkan sepeda dari kontrakannya, terdengar teriakan keras yang berasal dua rumah dari tempat tinggalnya.
”Api............. !!!! ”, teriak suara itu. Tarjo segera menghempaskan sepedanya dan berlari menuju suara teriakan itu. Ia menyusuri lorong sempit dan gelap. Di ujung lorong ia disambut cahaya merah bara dan hawa panas yang semakin didekati semakin menjalari tubuhnya. Ia semakin memacu larinya lebih cepat. Setibanya di mulut lorong ia menyaksikan api telah membumbung tinggi. Lidahnya menjilat seluruh tubuh rumah tak berdaya itu. Kampung itu mendadak terang tapi panas. Angin berhembus kencang menambah gairah liar sang Raja Merah melumat rumah yang hanya terbuat dari potongan papan tipis dan kayu. Warga kampung panik. Mereka bahu-membahu berjuang menaklukan api yang semakin rakus. Mereka berteriak, menyiram, berlari, menyiram, berteriak lagi, berlari, menggendong bayi, menyelamatkan perabotan, berteriak, menyiram air, menuntun para jompo keluar dari kampong, berteriak, menyiram, berlari dan menangis. Tarjo pun larut dalam pergumulan malam itu.
Di lain sudut kota, Tari berdiri sedari tadi menunggu kedatangan Tarjo. Tak pernah ia menunggu selama ini. Malam kian larut. Jalan pun kembali lengang setelah seharian penuh sesak orang dan kendaran berebut berlalu lalang di atasnya. Bayang deretan gedung dihadapannya meliuk-liuk terbawa arus air kanal tua. Andai Tarjo tidak menjatuhkan sepeda malam itu mungkin dirinya dan juga Tarjo akan terjerembab ke dalam kanal itu dan terseret arusnya. Sayang dinding kanal itu telah berubah menjadi beton bermotif garis kaku. Pemerintah kota membongkar batu-batu kali yang tersusun apik dan mengeruk isi perutnya guna menambah kapasitas daya tampungnya. Di seberang dari tempat ia terpaku, bercengkrama dua atau tiga sejoli di balik pot-pot besar penghias trotoar jalan. Tangan, kaki, kepala, tubuh mereka lebih mudah terdengar dibanding suaranya. Jikalau saja kantuk dan lelah tak datang menghampirinya, ingin sekali Ia menyusuri trotoar itu dan menikmati angin malam. Ia pun menyerah pada waktu. Tarjo mungkin seperti dirinya saat ini. Hari ini mungkin ia mendapat penumpang lebih banyak dari hari sebelumnya hingga dirinya lelah dan tak sadar sudah terlelap dalam mimpi, duga Tari. Akhirnya ia memutuskan untuk memanggil ojek sepeda yang masih mangkal di bibir jalan.
”Oj...? ”, suaranya tertahan dan ia menyimpan lambaiannya, sebab sepotong tangan besar menepuk bahunya. Segera ia membalikkan tubuhnya mencari siapa pemilik sepotong tangan itu. Seorang lelaki dan Tari mengenalnya. Fans Berat, julukan dari teman-teman Tari kepada lelaki itu. Sebab selain selalu duduk di meja terdepan saat Tari tampil dan belum beranjak hingga selesai, lelaki itu berpostur sangat subur yang membuat timbangan menjerit bila terinjaknya. Ia sangat menikmati suara, teknik dan gaya Tari bernyanyi, dan mengagumi kecantikannya. Meski hanya serorang penyanyi pub, Tari bernyanyi dengan hati pujinya sekali waktu. Lelaki itu menawarkan diri untuk mengantarkan Tari ke kontrakannya. Ini tawaran yang kesembilan, dan delapan sebelumnya selalu ditepis baik-baik oleh Tari. Kali ini usaha lelaki itu berhasil. Wajahnya sumringah hatinya berbunga-bunga. Tanpa membuang waktu ia segera menjentik-jentikan jarinya kearah sebuah mobil yang parkir di depan pub. Mobil pun bergerak mendekat sejenak kemudian berhenti di sampingnya. Lelaki itu membukakan pintu belakang lalu mempersilakan Tari untuk masuk lebih dulu kemudian menutup rapat pintu itu. Segera ia berlari kecil berkeliling setengah lingkaran menuju pintu di sisi lain. Riang hati membuat tubuhnya ringan. Sejenak kemudian ia membuka pintu dan membenamkan dirinya dalam kabin mobil. Kabin penuh sesak oleh dirinya.
”Gunung Sahari!”, perintah kepada supirnya. Sang supir mengangukkan kepala tanda mengerti dan siap menjalankan perintah majikannya. Kaki kanannya menekan pedal gas, kaki kirinya meregang pedal kopling, mobil pun melaju. Jalan yang lengang menggoda sang supir menekan pedal gas dalam-dalam. Mobil pun meluncur deras menyusuri kanal tua. Tari terdiam menatap kota dari balik kaca jendela. Cahaya lampu-lampu saling berkejaran, bayang-bayang gedung-gedung, pepohonan, trotoar, orang-orang dipinggir jalan melebur dan tumpang tindih dalam garis-garis sejajar. Sesekali ia menengok lelaki tambun tadi yang ternyata sudah terlelap tak lama setelah mobil berjalan. Mudah sekali ia tertidur, mungkin terlalu banyak alhokol merasuk otaknya, pikir Tari. Jarak semakin dekat namun mobil itu tak berkurang kecepatannya. Bahkan setelah tahu majikannya tertidur, sang supir semakin kesetanan menunggangi mobil itu. Baginya ini kesempatan menaklukkan jalanan. Tari tak pernah berada dalam mobil yang melaju sekencang itu. Hatinya ciut, tapi ia merasa sungkan untuk memohon sang supir memperlambat mobil itu. Di langit awan datang bergerombol dari arah berlawanan perlahan menyelimuti kota. Sesaat gerimis pun turun. Tari semakin gundah. Jalan yang dilihatnya seolah merenggang menjadi garis lurus yang tak berujung. Padahal ia tahu bahwa tinggal satu tikungan ia akan sampai ke tujuan.
Hujan turun semakin deras membasahi semua yang ada dan membunuh Sang Raja Merah sebelum naik tahta. Kematiannya menyisakan kebul asap tipis, bertumpuk-tumpuk arang dan air mata. Hujan pula yang memanggil ingatan Tarjo atas apa yang tertunda.
”Tari!” pekik hatinya. Ia segera berlari menjemput sepedanya. Ditegakkannya sepeda yang terbaring itu, kemudian ia melompat ke atas joknya. Rambut, wajah, kakitangan, tubuh dan pakaiannya basah. Ia terbiasa seperti itu dan tak dipedulikannya. Seperti mendapat bala bantuan pasukan iblis ia mengayuh kereta angin itu sekuat dan sekencangnya. Dadanya bergemuruh sebab jantungnya mengenjot darah untuk mengalir lebih deras. Nafasnya memburu sebab paru-parunya butuh pasokan oksigen lebih banyak. Namun hatinya tersenyum. Hanya pendar cahaya lampu jalan yang menuntunnya melibas jalan remang dan basah. Hujan belum juga reda, Tarjo terus mengayuh. Tepat di atasnya sosok bayangan terbang mengikutinya. Sosok tak berwajah berjubah hitam berkibar-kibar. Beberapa kayuh lagi Tarjo sampai di persimpangan empat, namun ia tak memperlambat laju sepedanya. Lampu merah sudah satu minggu tak menyala setelah menjadi sasaran yang tak ditargetkan dalam perang batu antarpelajar.
Tarjo tak peduli, ia menerobos sekat yang ia sendiri tak tahu sesuatu di baliknya. Belum habis kayuhannya meyeberangi persimpangan itu, dari arah sisi kirinya meluncur deras mobil yang ditumpangi Tari. Sang supir terkejut bukan main tak menyangka kehadiran pemakai jalan selain dirinya pada malam selarut ini. Lagi pula lampu hijau dari arahnya menyala. Kalau pun ada kendaraan lain dari sisi selain dirinya pasti dalam posisi berhenti sebab lampu merah pasti menyala, begitu keyakinan Sang Supir. Ditekannya pedal rem dalam-dalam dan dibantingnya stir ke kanan untuk menghindar. Pekik panjang gesekan ban dan aspal memecah kesunyian. Untung tak diraih malang tak terelak. Jalan yang basah membuat mobil itu tergelincir dan berputar liar. Mendekat menghampiri Tarjo yang terlalu dekat untuk dapat lolos dari benturan. Dalam hitungan kurang dari satu detik Tarjo dan Mobil itu tak lagi berjarak. Suara benturan itu kembali memecah kesunyian untuk kedua kalinya. Tarjo merasakan sejuta palu godam menghantam kaki, tangan, dada dan tulang rusuknya. Ia pun terhempas jauh meninggalkan sepedanya yang terus melaju tanpa dirinya. Tubuhnya melayang dan ia merasakan seluruh otot tubuhnya terputus. Dirinya dihinggapi sakit yang luar biasa dan ia tak berdaya saat kepalanya menukik tajam hendak menghujam aspal jalan. Sebelum ia mencumbu aspal sosok hitam yang mengikutinya tadi menyambar secepat kilat lalu menarik ke atas dirinya hingga terlepas dari tubuhnya. Kepalanya membentur aspal tepat ketika sepedanya terbaring karena hilang keseimbangan. Kali ini hanya dirinya yang mendengar benturan itu. Sosok itu membawanya terbang semakin tinggi meninggalkan tubuhnya yang kini tersungkur di aspal basah. Darah segar keluar dari hidung dan mulutnya. Matanya mengatup rapat dan tubuhnya tak bergerak.
Tari terhempas dari kursinya dan tubuhnya membentur kursi yang ada didepannya. Keningnya mencium besi penyangga bantalan kepala. Lelaki tambun itu pun terusik tidurnya. Tari segera membuka pintu, lalu ada kekuatan besar yang menarik dirinya keluar dari mobil dan menyeretnya untuk berlari ke arah tubuh yang sudah tak berdaya itu. Ia berlari dengan tubuh terhuyung-huyung. Rambut, wajah, kakitangan, tubuh dan pakaiannya mulai basah. Saat ia melewati sepeda yang terbaring, dirinya terperanjat. Ia mengenal sepeda itu dan lelaki yang menungganginya. Dadanya sesak, air matanya berderai, mimpi buruk menggelayuti pikirannya. Kedua tangannya meredam isak tangisnya. Ia terus berlari mendekati tubuh lelaki itu. Hujan belum juga reda. Rambut, wajah, kakitangan, tubuh dan pakaiannya kini basah. Segera ia melipat lututnya begitu berada disamping tubuh lelaki itu. Kedua tangan Tari meraih bahunya lalu dengan sekuat tenaga membalikkan tubuh lelaki itu. Wajah lelaki itu samar terlihat sebab lampu jalan hanya memberi remang dan darah hangat melumurinya. Memar di pelipis, mata, dan pipi semakin mengaburkan raut muka lelaki itu. Hanya sebuah senyum yang tesisa di wajahnya. Senyuman itu tak asing bagi Tari. Tari menguncang-guncang tubuh itu hingga tubuhnya sendiri ikut berguncang. Wajahnya ditengadahkan ke atas langit kelam. Matanya menyapu liar lalu berhenti pada satu titik putih. Suaranya memanggil-manggil titik itu untuk kembali ke tubuh yang tak berdaya itu. Titik itu terlalu jauh untuk mendengar teriakannya. Ia semakin jauh dan jauh meninggalkan Tari kemudian menghilang ditelan kelam. Tari merebahkan tubuh di atas di pangkuannya. Ditundukannya pandangan ke wajah tersenyum itu. Tangannya disusupkan lembut di antara rambut lelaki itu dan merapihkannya, kemudian turun untuk membasuh darah hingga menyingkir dari wajah itu. Air hujan membawa pergi luka dari wajah itu. Di bawah temaram lampu jalan, Tari memeluk tubuh dingin itu. Air matanya melebur bersama hujan yang belum juga reda.
***
Rating Views: 19 reads
Comments: 4
Rating:
Favorites You have to login to access this feature
click here Flag You have to login to access this feature
click here
ceritanya baguss.......
dirapiin baris dan enternya
nice trying..
semangad...!!
lihat lagi teknik penulisannya. Nasihat bukan nasehat. Apotek bukan apotik. Semangat!